“Hasil Swab PDP Meninggal di Pancaran Kasih Belum Keluar”

172
Ilustrasi. /ist

Manado, MEDGO SULUT – Beredarnya informasi di media sosial yang menyebutkan hasil pemeriksaan swab Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang meninggal dunia di Ruang ICU Isolasi RSU Pancaran Kasih GMIM Manado pada Senin lalu positif Covid-19, dibantah Gugus Tugas Covid-19 Sulut.

Jubir Gugus Tugas Covid-19 Sulut dr Steaven Dandel dalam konferensi pers menuturkan, hasil pemeriksaan swab PDP warga Kecamatan Singkil, Kota Manado tersebut, masih belum keluar.

“Belum keluar hasil swabnya,” singkat Dandel, Rabu (3/6/2020) malam.

Seperti diketahui, pada Senin lalu keluarga PDP tersebut, tidak terima pasien tersebut dimakamkan dengan protokol Covid-19. Keluarga dan sejumlah massa lalu menerobos masuk ke RS dan mengambil jenazah yang sudah dibungkus dengan kafan.

Dalam video yang viral di media sosial, anak pasien menerangkan, bahwa pada saat selesai memandikan jenazah ayahnya, pihak RS (dalam hal ini dokter yang menangani) memberikan uang kepadanya agar jenazah tidak lagi dibawa ke rumah dan langsung dibawa ke lokasi pemakaman.

“Sedikit mau diperjelas supaya tidak timbul fitnah atau cerita-cerita lain, kalau almarhum sakit ginjal bukan Covid-19 dan dari pihak RS Pancaran Kasih mengizinkan jika almarhum dimakamkan di penguburan Ketang Baru (Kombos). Yang jadi permasalahan, keluarga tidak terima ketika jenazah mau dipetikan (taruh dalam peti) karena kami orang Muslim seharusnya taruh di keranda. Karena pasien negatif bukan positif,” terang Khairullah Lasarika, anak almarhum.

Sementara Direktur Utama (Dirut) RS Pancaran Kasih dr Frangky Kambey menegaskan, isu menawarkan uang sogok kepada keluarga pasien tersebut, tidak benar.

Dia menjelaskan, setiap pasien yang masuk RS (baik ODP, PDP, dan positif Covid-19), langsung dinotifikasi ke Gugus Tugas Kota Manado dan Pemprov Sulut. Apabila pasien meninggal, juga diberi tahu ke Gugus Tugas. Ada protokol yang dilakukan jika pasien meninggal. Yakni protokol jenazah, karena situasi wabah.

“Pasien tersebut terdiagnosa sebagai PDP. Karena itu, protokol yang digunakan adalah penanganan jenazah Covid-19,” ujarnya, dilansir dari manadopost.

“Di kami ada kebijakan, karena ini bukan yang pertama, biasanya kami memberikan insentif kepada yang memandikan, mengkafani, dan mensalatkan jenazah. Mengingat mereka menanggung resiko yang besar, dalam hal ini tertular, maka harus menggunakan APD level 3. Biasanya kami berikan insentif sebesar Rp 500 ribu per orang,” tambahnya.

Lanjut Kambey, kebetulan yang terjadi adalah yang memandikan, mengkafankan dan mensalatkan hanya satu orang, biasanya tiga. Sehingga petugas RS melaporkan, ada dua insentif yang tertinggal. Sehingga dia menginstruksikan, berikan saja ke siapa saja yang disitu. Kebetulan yang ada di situ keluarga.

“Menurut petugas, keluarga tidak menerima. Jadi sebenarnya ada kesalahpahaman. Kalaupun kami salah, kami minta maaf. Tapi dari lubuk hati yang terdalam, kami hanya menjalankan kebijakan. Misalnya pun kalau diterima, anggaplah itu sebagai ungkapan belasungkawa kami, bukan seperti yang diisukan bahwa kami menyogok untuk mengatakan pasien ini positif Covid-19,” urainya.

“Kami sudah melakukan tugas dan kewajiban kami, yakni menangani dan melaksanakan apa yang menjadi protokol. Prinsip kami adalah menjalankan tugas, dan menunaikan misi kemanusiaan tenaga kesehatan. Kalaupun ada kesalahan, mungkin miskomunikasi antara dua belah pihak, kami mohon maaf,” kuncinya.

 

(*/MDG-09)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here