HEROISME DARAH TINGGI

102
Oleh: Katamsi Ginano

MEDGO SULUT – LONDON masih menggigil ketika kami (saya dan beberapa karib) tiba kota ini, Maret 2019.

Kami hadir atas undangan—pula budi baik Dubes Indonesia untuk Kerajaan Inggris merangkap Irlandia dan IMO, Rizal Sukma—salah satu penerbit yang turut ambil bagian dalam pesta buku akbar, London Book Fair, yang digelar di Olympia London, 12-14 Maret 2019.

Usai tiga hari memuaskan dahaga terhadap buku dan banyak diskusi dengan para penulis jempolan, saya diseret mengunjungi tempat-tempat yang tak boleh dilewat, terutama museum dan perpustakaan.

Lalu, pada satu hari yang beberapa kali diinterupsi rintik, saya diajak ke Oxford dengan pemandu yang bikin mulut kerap menggangga: Hamid Basyaib.

Sepanjang kurang dari 2 jam bermobil dari London ke Oxford, Hamid yang otaknya mirip perpustakaan berjalan, menyuapi benak kami dengan sejarah panjang Universitas Oxford (University of Oxford), perguruan tinggi tertua berbahasa Inggris yang sekaligus menjadi icon kota ini.

Pendeknya, universitas yang perkuliahan pertamanya dimulai 1096 ini sungguh top markotop.

Mei 2020 ini, saya langsung teringat dan (sekali lagi) meng-amin-kan tausiah Hamid tentang dasyatnya universitas ini tatkala menonton uji coba vaksin Covid-19 yang sudah ditahap uji coba ke manusia oleh ilmuwan Oxford (https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200501111226-139-499175/video-oxford-bersiap-edarkan-vaksin-covid-19-secara-global).

Tak kurang mengagumkan, jika disetujui penggunaannya, Universitas Oxford yang untuk produksi massalnya mengandeng perusahaan biofarmasi global berbasis di Amerika, AstraZeneca, akan membagikan vaksin ke seluruh dunia, terutama negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, secara nirlaba.

Artinya, kolaborasi llembaga pendidikan dan korporat kaplitalis ini hanya mengenakan biaya produksi dan distribusi untuk vaksin itu.

Rencana mulia Universitas Oxford dan AstraZeneca itu mengingatkan saya pada obat untuk penderita penyakit tropis river blindness (kebutaan sungai), Ivermectin (populer sebagai Mectizan), yang ditemukan pada 1975 dan secara kimiawi dibuat pada 1978 oleh Satoshi Omura dari Universitas Kitasato, Tokyo, dan William C. Campbell dari Institut Merck—perusahaan farmasi yang didirikan Frederich Jacob Merck di Darmstad, Jerman, pada 1668.

Seperti apa penyakit kebutaan sungai ini? Ringkasnya, penyakit ini diakibatkan parasit (berbentuk cacing) yang ditularkan lewat gigitan berulang lalat hitam.

Lalat ini berkembang biak di aliran sungai-sungai di daerah tropis, terutama di wilayah Afrika sub-Sahara (seperti Nigeria) dan beberapa Kawasan di Amerika Selatan (Brasil, Kolombia, Guatemala, Meksiko, dan Venezuale).

Setelah 1-2 tahun terinfeksi parasit kebutaan sungai ini, penderita yang tak diobati mengalami gangguan penglihatan dan akhirnya buta.

Merck menemukan, Mectizan yang awalnya diteliti untuk menyingkirkan parasit pada hewan, ternyata efektif mengobati manusia, khususnya mereka yang terjangkit cacing kebutaan sungai.

Masalahnya, penelitian dan produksi obat ini memakan biaya sangat besar. Di sisi lain, penderita kebutaan sungai yang umum kaum papah bukanlah pangsa pasar menarik dan menguntungkan.

Lalu Merck membuat keputusan kontroversial: memproduksi dan sejak 1981 menggratiskan Mectizan untuk penderita kebitaan sungai di lebih dari 30 negara.

Merck mengabaikan keuntungan ratusan juta dolar AS atas nama kemuliaan manusia.

Atas apa yang dilakukan Merck, World Health Organization (WHO) memberikan penghormatan dengan memajang patung orang tua buta dituntun anak kecil di setiap kantornya di seluruh dunia.

Akan halnya Satoshi Omura dan William C. Campbell, pada 2015 beroleh Nobel Kedokteran (bersama To Youyou) untuk metode terapi melawan infeksi cacing dan penyakit malaria yang mereka temukan.

Universitas Oxford hanya salah satu dari lembaga-lembaga dan institusi yang sedang berlomba dengan waktu menemukan vaksin penjinak Covid-19.

Tapi, universitas ini adalah yang pertama mengumumkan akan menjadikan temuan mereka produk nirlaba.

Betapa mengguncang nyali melihat keluruhan Universitas Oxford dan AstraZeneca, juga korporat seperti Merck; apalagi manakala menyaksikan sehari-hari Covid-19 ditanggapi dengan reaksi bagai dagelan di negeri ini, terlebih di Sulut.

Ketika di belahan bumi lain para pintar dan arif berikhtiar mencari cara terbaik menyelamatkan peradaban dari ancaman tak kasat mata virus Corona, kita di Manado khususnya—sebagaimana juga di beberapa daerah di negeri ini—asyik mempertengkarkan tetap memakmurkan rumah Allah atau tinggal saja dan beribadah di rumah.

Bergeser sedikit, topik yang dibahas melingkar-lingkar dan meluap-luap tak jauh dari soal perlu–tidaknya PSBB, lockdown, bantuan pemerintah yang lelet, dan data penerima yang amburadul.

Sebagai penyedap, lalu-lalang pula pernyataan bertensi tinggi. Ada bupati yang merutuki menteri sembari abai catatan resmi data warga yang patut segera menerima bantuan sebagai imbas Covid-19 di daerahnya ternyata berantakan tak karuan.

Pernyataan yang disemburkan dengan amarah oleh Bupati, yang seolah heroik, sekali tebas patah oleh fakta (bisa disimak di: https://nasional.tempo.co/read/1337786/korwil-pkh-sulut-minta-bupati-tidak-salahkan-mensos-soal-bansos/full&view=ok) bahwa dia dan aparatnya yang justru perlu disembur.

Reaksi konyol di tengah teror Covid-19 bisa sangat panjang kita beber; baik dari pemerintah yang—harus diakui—serba gagap; masyarakat yang panik dan marah; serta para politikus, aktivis, dan para penunggang isu yang menggunakan peluang untuk aneka kepentingan. Tapi apa faedahnya kecuali menciptakan pahlawan dadakan?

Lalu-lalang fakta itu, jika dipikir dan direnungkan, mestinya membuat kita, orang kebanyakan ini, kesal dan naik darah.

Masalahnya, apakah itu bukan menambah keruh kolam Covid-19 yang memang sudah butek dan cuma menjadikan kita salah satu lagi dari pahlawan sesaat karena tendangan darah tinggi; lalu lelucon yang dikenang dalam waktu lama?

Untunglah, di antara daftar panjang menyebalkan itu, negeri ini tak kekurangan satria sesungguhnya, yang kebanyakan bekerja dalam diam; tak menarik diliput oleh media atau topik di grup WA dan media sosial.

Lagipula, yang tak sensasional, adiluhung sekalipun, memang tak bakal dilirik di negeri seperti Indonesia yang acara teve (media yang kini jadimainstream) utamanya adalah komedi kekonyolan fisik dan talk show receh.

Begitulah, sambil tetap tinggal di rumah, menahan diri, dan sering mengasup Amlodipine agar tekanan darah terjaga, kita berharap Covid-19 segera berlalu, termasuk karena vaksin Universitas Oxford dan AstraZeneca benar-benar ampuh menaklukkan virus ini.

Tapi, dengan demikian, sekali lagi kita diselamatkan oleh mereka yang menangani krisis dengan kepala tenang; bukan produk otak dramatis karena darah tinggi tak terkontrol.**

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here