Runtuhnya Dinding Sekolah

94
Oleh: Asep Rahman, SKM., M.Kes. (Dosen UNSRAT dan Ketua Yayasan Bina Lentera Insan)

MEDGO SULUT – Tahun 1990, seorang ekonom Pakistan, Mahbub ul Haq memperkenalkan model penilaian upaya pembangunan suatu negara yang disebut dengan indeks pembangunan manusia. Tiga pilar utamanya yakni pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Indeks yang kini digunankan oleh PBB sebagai dasar untuk mengukur bagaimana keseriusan pemerintah untuk menciptakan sumber daya unggulnya.

Tiga pilar tersebut tentu saling berkaitan dan mempengaruhi. Nah, dalam kondisi pandemi Covid-19 ini, kita melihat begitu jelas bagaimana pilar kesehatan mempengaruhi kekuatan pilar ekonomi dan pendidikan. Jika sektor ekonomi, telah mengenal istilah ‘the new normal’, maka sektor pendidikan diprediksi akan benar-benar menuju revolusinya.

Salman Khan, seorang warga Amerika Serikat keturunan India – Bangladesh bisa disebut sebagai pelopor pendidikan digital yang mendorong upaya revolusi pendidikan. Sejak tahun 2006, melalui Khan Academy beliau membangun visi yang sangat ideal yakni memberikan pendidikan gratis kepada umat manusia dimanapun berada. Kini, Khan Academy hadir dengan berbagai bahasa guna memudahkan peserta untuk aktif di dalamnya.

Selama ini, lazimnya seorang siswa dikatakan bersekolah jika harus berkumpul dengan teman-temannya dan gurunya di dalam ruang kelas fisik. Oleh Salman Khan, seorang yang ada di pelosok Indonesia, bisa saja menjadi murid kelas di Inggris ataupun di belahan bumi lainnya tanpa harus hadir secara fisik. Dengan kata lain, besar peluang kualitas pendidikan global dapat diterima oleh siswa atau mahasiswa lokal kita. Ini akan menjadi sebuah trigger revolusi sektor pendidikan.
Setidaknya kami mencatat empat potensi perubahan besar sektor pendidikan jika hal ini benar-benar terjadi.

Pertama, tidak ada lagi istilah pendidikan itu mahal. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa mahalnya biaya pendidikan berbading lurus dengan nominal rupiah investasi fisik yang tengah dibangun oleh sekolah atau perguruan tinggi tersebut. Namun dengan proses digitalisasi, seorang siswa hanya bermodalkan laptop bisa mengakses pendidikan yang berkualitas tanpa sekat-sekat ruang fisik lagi.

Kedua, siapa saja bisa sekolah. Konsep pendidikan kita yang ‘kaku’, seolah-seolah pendidikan formal hanya milik mereka yang berusia dibawah 30 tahunan akan segera berakhir. Pendidikan digital tidak mengenal usia untuk menempuh pendidikan. Bisa saja dalam satu kelas online, berisikan seorang kakek bersama-sama dengan anak dan cucunya. Aneh, tapi demikianlah yang mungkin terjadi, bisa saja dalam waktu dekat ini. Proses pendidikan pun bisa dilakuan kapan saja dan dimana saja.

Ketiga, siapa saja bisa jadi pengajar. Jenjang karir seorang guru atau dosen yang begitu rigid akan segera tergantikan dengan model yang lebih fleksibel. Seorang guru atau dosen dengan titel berjibun belum tentu akan memiliki kelas yang ramai peminat. Sebaliknya, seorang praktisi yang tidak memiliki latar pendidikan akademis bisa saja menjadi seorang pengajar yang handal karena memiliki best practice yang dapat dibagikan untuk siswanya.

Keempat, siapa saja bisa memiliki sekolah. Jika hari ini sekolah atau kampus hanya milik pemerintah dan swasta, karena memiliki sumber finansial yang sangat besar. Pendidikan digital akan merubah konsep ini, karena siapa saja bisa membangun kelas, sekolah, dan kampus virtual yang berkualitas dan diminati oleh masyarakat.

Lantas apakah sekolah atau kampus yang hari ada akan mulai ditinggalkan? Rasanya tidak secepat itu. Namun ini akan menjadi tantangan buat sekolah dan kampus untuk segera membangun sistem pendidikan yang adaptif. Karena formalitas pendidikan akan tidak bermakna jika telah hadir model pendidikan yang lebih substansial, fleksibel dan tentu saja ekonomis. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here