Satpol PP dan Pedagang Takjil

148
Oleh: Katamsi Ginano

Manado, MEDGO SULUT – Hari ini, dikejutkan aksi Satpol PP membubarkan pedagang takjil. Orang-orang kecil yang punya kesempatan meraih rezeki di Ramdhan—bulan penuh berkah. Setahun sekali, kurang dari sebulan penuh, kesempatan yang biasanya sempit, datang dengan agak lapang.

Tapi Covid-19 mengancam dan Satpol PP tiba untuk menegakkan aturan (yang sesungguhnya serba longgar). Pendek kata: demi tak disambar Corona, dan untuk keselamatan serta kemaslahatan bersama, pedagang takjil wajib bubar jalan.

Saya ingin berdiri di tengah. Pedagang takjil sedang berikhtiar; Satpol PP mesti melaksanakan tugas. Dan mereka bertemu di titik yang tampaknya sulit dikompromikan. Lalu, orang banyak (kita yang kebanyakan sesungguhnya berjarak dengan fakta dan kejadiannya) kasak-kasuk memperbenturkan pro kontra. Mendukung yang dianggap lemah; sembari mengutuk yang kuat dan dipersepsi sewenang-wenang.

Tidak adakah jalan tengah? Di Peru, seorang ekonom, Namanya Hernando de Soto, dulu sekali membuat eksperimen. Di salah satu pasar, dia memberikan modal dan mengajari pedagang kecil manajemen dan ide-ide perbaikan ekonomi. Eksperimennya sukses. Dibukukan dan menginspirasi (bahkan kemudian diterapkan lebih luar biasa) oleh praktisi semacam Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya di Bangladesh.

Apa konklusi de Soto? Singkatnya: Orang menjadi miskin atau tidak berdaya bukan karena kapitalisme atau sebab yang kaya terlampau kuat untuk digoyang. Musabab kemiskinan, simpul de Soto, karena tak ada jalan atau akses ke kapital yang mampet. Dengan memberikan akses pada kapital, disertai pengajaran agar yang miskin mampu mengelola kapitalnya, kelapangan akan tiba dengan sendiri.

Ketimbang mengutuk Satpol PP sembari main pahlawan-pahlawan mengumbar simpati di media sosial (dan utama grup WA), mengapa kita tidak lebih kreatif?

(1) Mari kita rising fund untuk memberikan akses ke kapital (modal) ke pedagang takjil, agar mereka punya gerobak (misalnya) dan lalu di tata agar memenuhi ‘’standar, protokol, bahkan selera penguasa’’ menghadapi Covid-19—juga masa setelah itu yang bukan saja di Ramadhan.

Sebagai awal, mengapa tidak BAZ mengucurkan kapital (dana sebagai modal) untuk para pedagang takjil itu?

(2) Mari kita (bukankah aktivis Muslim di sini hebat-hebat dan pintar-pintar) mengajari mereka manajemen; termasuk manajemen krisis hingga di masa Covid-19 ini mereka mampu memenej usahanya agar survive.

(3) Dan supaya tidak menjadi omong kosong sok pahlawan, saya akan memulai dengan komitmen ikut membantu. Tinggal siapa yang bersedia bergabung agar menjadi kelompok yang bersama-sama secara nyata mengambil tindakan. Bukankah satu lidi tidak berguna dibanding sekumpulan lidi yang minimal bisa dijadikan sapu.

***

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here