Takwa (1)

93
Hikmah Hari Kesebelas Ramadhan 1441 H

Oleh: Sabara Nuruddin
Peneliti Bidang Kehidupan Beragama di Balai Peneltian dan Pengembangan (Balitbang) Makassar

 

MEDGO SULUT – Takwa adalah ultimate goal (tujuan utama) dari puasa yg disyariatkan kepada orang-orang beriman sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah dalam surat al-Baqarah ayat 183. Takwa merupakan kualitas jiwa sebagai indikator dan penanda kualitas kedekatan hamba kepada Tuhannya. Dalam Nahj Balaghah, Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan karakteristik takwa secara holistik yang mencakup karakteristik spiritual, intelektual, dan moral sampai lebih dari seratus sifat. penjelasan Imam Ali ini membuat Hammam bin Syarih, sahabat beliau yang bertanya pun menjadi jatuh pingsan.

Dalam Alquran, kata takwa sering sekali disebutkan baik dalam bentuk kata kerja (fi’il) maupun sebagai kata benda (ism). Secara etimologi taqwa (EYD: takwa) berasal dari kata waqyan yang berarti “penjagaan” dan “pemeliharaan” dengan kata lain takwa adalah pemeliharaan atau penjagaan diri dari segala hal yang menghalangi kedekatan dengan Sang Khalik. Raghib al-Isfahani menyebut takwa berasal dari kata wiqayah yang berarti menempatkan diri dalam penjagaan dari sesuatu yang menakutkan atau menyakitkan. Jika dimaknai dari perspektif syariat, maka takwa adalah penjagaan atau pemeliharaan diri dari segala dosa dan perbuatan yang dilarang oleh Tuhan karena akan menyebabkan kerusakan atau akan membawa pada ketakutan di akherat nanti.

Selanjutnya berkenaan dengan takwa sebagai sikap dan kualitas hidup. setidaknya ada dua tingkatan takwa dilihat dari landasan, aplikasi, dan implikasinya, yaitu takwa negatif dan takwa positif. Takwa negatif (kata negatif di sini tidak bermakna terlarang atau buruk) bersumber pada upaya menjauhkan diri dari dosa dan kemaksiatan. Pada tingkatan ini, takwa ditampilkan dengan sikap menjauhi atau mengeksklusi diri dari kemaksiatan dan sumber-sumbernya, persis seperti seseorang yang menghindarkan diri dari penyakit dengan meninggalkan atau menjauhkan diri dari daerah yang terserang wabah penyakit. Akhirnya mengeksklusi pergaulan dari orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat agar tidak terpengaruh untuk melakukan dosa dan maksiat. Takwa negatif merupakan ketakwaan tingkat rendah karena kekebalan jiwa masih lemah hingga lebih memilih menjauh. Takwa jenis ini adalah takwa yang tidak akan menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan, karena cenderung bersikap reaktif dan asosial.

Sedangkan takwa positif bersumber pada kekuatan/kekebalan jiwa yang berasal dari aktivasi potensi-potensi spiritual dan kesadaran untuk menolak segala keburukan. Jika ketakwaan negatif adalah jiwa yang labil, maka ketakwaan positif adalah jiwa yang stabil hingga tak akan terpengaruh meski sumber-sumber kemaksiatan itu ada didekatnya atau bahkan sekalipun ia tinggal di suatu lingkungan yang dipenuhi dengan kemaksiatan. Takwa positif adalah kualitas jiwa paripurna dengan berjalannya akal secara maksimal dan terpantiknya kesadaran fitrawi hingga membuat manusia menjadi benar-benar bisa bersikap manusiawi. Jadi makna menjauhkan diri dari dosa bukan dengan sikap menjauh dari lingkungan, tapi membentengi diri dari dosa. dengan pencapaian akal dan kesdaran fitrah yang maksimal. Dengan kualitas takwa positif, maka tidak akan sungkan untuk bergaul dengan para pelaku dosa dan kemaksiatan tanpa takut terpengaruh dan bahkan ikut membantu mereka untuk menjaga dan memelihara diri dari dosa dan kemaksiatan, dengan aktif berdakwah dan memberikan pengaruh yang positif. Insan yang bertakwa bukanlah manusia yang asosial dengan menjauh dan acuh terhadap kebobrokan realitas, melainkan bersikap positif dengan terlibat aktif memperbaiki kerusakan yang ada.

Terkait takwa sebagai ultimate goal dari puasa, takwa adalah capaian seseorang yang puasanya bukan sekadar proses menahan, namun puasa dengan derajat “menuhan”. Puasa adalah proses di mana manusia mehahan diri dari segalap potensi yang dapat mendehumanisasikannya, sehingga orientasi puasa adalah memanusiakan manusia dengan menjadikan Allah sebagai porosnya. Sehingga tujuan dari menahan tersebut adalah proses “menuhan” dengan takwa sebagai capaiannya. Berpuasa dengan hanya sekadar menahan hanya berefek pada lapar dan dahaga, puasa sebagai proses ”menuhan”, maka takwa dengan segala kemuliaannya akan menjadi imbalannya. ***

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here