Takwa (2)

68
Hikmah Hari Keduabelas Ramadhan 1441

Oleh: DR. Sabara Nuruddin
Peneliti di Balitbang Makassar

 

MEDGO SULUT – Pembahasan kemarin saya membahas dua kategori takwa yang saya ambil dari pembacaan dalam perspektif sufisme, yaitu takwa negatif dan takwa positif. Kedua jenis takwa tersebut adalah tingkatan dan bukan tahapan. Pembedaannya didasarkan pada fondasi (landasan), aplikasi dan implikasi. Keduanya berdasarkan definisi takwa, khususnya takwa dalam pandangan etimologis dan syariat. Secara etimologis takwa diartikan sebagai upaya menjaga atau memelihara diri dari hal-hal yang membahayakan dalam konteks ini adalah dosa kepada Allah. Sedangkan dalam perspektif syariat, takwa adalah menjaga diri dari melakukan perbuatan terlarang karena efeknya adalah mendapatkan hukuman dari Allah.

Menurut Muthahhari, acapkali ketakwaan dipahami dan disikapi sebagai kesalehan negatif melalui prilaku negasi dengan pemantangan diri atau penghindaran diri demi menjaga diri dari melakukan laangan Allah Takut merupakan landasan dari takwa jenis ini, aplikasinya adalah menghindarkan diri dari sumber dosa karena khawatir terjebak dan tergoda untuk ikut melanggar, implikasinya pada sikap asosial dan reaktif. Orang dengan ketakwaan jenis ini misalnya ketika ia berpuasa maka ia akan menghindari orang-orang yang tidak berpuasa bahkan bersikap reaktif terhadap orang-orang yang tak berpuasa tersebut. Takut pada godaan dengan cara menghindari godaan atau berprilaku reaktif terhadap godaan tersebut. Takut puasanya ternoda maka tidak mau bergaul dengan orang yang tak berpuasa, takut akidahnya terganggu maka umat agama lain tidak boleh mendirikan rumah ibadah atau beribadah di sekitar lingkungan dia, takut terhadap perbuatan dosa maka mengeksklusi diri dari pergaulan sosial yang dipandangnya penuh dosa. Iniah sikap asosial dan reaktif yang merupakan implikasi dari bentuk ketakwaan negatif karena imunitas ruhani yang labil dan iman yang lemah. Alih-alih mengemban tanggung jawab sosial, justru ketakwaan jenis ini didorong oleh penyelamatan diri secara individual. Sa’di menyebut orang dengan ketakwaan jenis ini dalam Gulistan. “Kulhat seorang bijak di gunung-gunung, bahagia di gua jauh dari keramaian dunia. Kuberkata, mengapa tidak ke kota dan meringankan beban hatimu dari bumi ini”.

Baca juga: Takwa (1)

Takwa positif bermakna perisai atau penjagaan diri sebagaimana disebut dalam surat Ali Imran ayat 120, “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan bagimu”. Takwa positif didasarkan optimalnya kesadaran fitrawi akibat maksimalnya kerja akal dalam membentuk iman yang paripurna. Akibat kerja akal yang optimal, imunitas ruhani menjadi stabil dan keimanan menjadi sangat kuat sebagai perisasi yang tak akan ditembus oleh tipu daya godaan seperti apa pun. Puasanya tak terganggu, meski banyak orang lain di sekitarnya minum dan makan, imannya tetap aman meski ia harus sendirian di tengah lingkungan yang ingkar, tetap saleh meski berada di tengah lingkungan sosial yang salah. Jika dalam kategori negatif, takwa menjadi semacam penjara ketakutan yang membuat seseorang harus lari dari kenyataan, sebaliknya takwa positif adalah perisai penjaga yang membuat seseorang menjadi “tuan” bagi dirinya sendiri. Kualitas jiwa yang stabil membuatnya menjadi manusia merdeka karena hatinya hanya diliputi oleh kesadaran ketuhanan. Ketakwaan positif melahirkan visi progresif bagi perubahan sosial. Lingkungan sosial yang rusak tidak dijauhi tapi diperbaiki bukan dengan sikap yang reaktif tapi persuaif, merangkul tidak memukul, penuh kesabaran bukan kebencian. Muthahhari ketika membahas khutbah Sayyidina Ali tentang takwa kemudian menyimpulkan ada dua hal paling penting yang ditunjukkan dari pengaruh takwa, yaitu; perkembangan wawasan dan kejelasan pandangan serta kemampuan memecahkan masalah untuk keluar dari kesulitan dan krisis. Dalam khutbah ke 230 di Nahj Balaghah, Sayyidina Ali berkata; “takwa merupakan kunci petunjuk, bekal untuk akhirat, kebebasan dari setiap jenis perbudakan dan kebebasan dari setiap bentuk kehancuran”.

Takwa sebagai ultimate goal dari puasa melalui perintah menahan, sesungguhnya untuk membentuk jiwa yang penuh daya tahan, sehingga tidak akan terpengaruh sedikit pun dengan berbagai macam godaan, meski godaan tersebut berada di depan mata. Menahan yang membentuk daya tahan meniscayakan tanggung jawab sosial yang menyertainya. Pesan revolusioner puasa adalah jhad akbar dalam diri untuk diejawantahkan dalam jihad asghar sebagai konsekuensi sosial dari orang-orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Inilah puasa yang benar-benar “menuhan”, bukan hanya puasa yang sekadar menahan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here