Tukang Bully Anak

121

Oleh: Anton Miharjo

 

Selama dua tahun terakhir ini, banyak anak-anak mengekspresikan pikirannya melalui surat yang ditujukan pada Presiden Joko Widodo, antara lain: Karunia Rudianti, anak SD kelas 3 menulis surat kepada Jokowi dan berharap dapat kursi roda.

Ada Balqis Ufairah Syahira Nasution, anak usia 10 tahun, menulis surat pada Jokowi tuk membebaskan ayahnya dari penjara. Ada juga Zaqia Audiva, siswi kelas VII F SMP Negeri 24-Surabaya menyurat pada Jokowi terkait biaya sekolah

Kemudian ada Sidni, usia 10 tahun menulis surat dalam bentuk gambar anak-anak sedang menonton film Avengers. Dan, terakhir Almira Yudhoyono, anak SD umur 12 tahun, menulis surat pada Jokowi tentang lockdown yang lahir dari permintaan sekolahnya

Dan tentu masih banyak anak-anak yang menulis yang tak sempat viral di medsos. Semua surat anak-anak itu, sebelum surat cucu SBY, dianggap biasa saja.

Saat Almira menulis surat yang isinya tentang lockdwon, beramai-ramailah wajah asli penggiat sosial membully, dan atau mendukung bullyan itu. Seolah ingin menunjukan wajah aslinya sebagi pelaku perudungan anak.

Tanpa melihat konteks surat itu, berbagai umpatan tercatat di sana. Mulai dari tuduhan melibatkan cucu tuk nyerang jokowi, anak sok tahu, dan anak kecil berpolitik.

Itulah wajah dan cara berpolitik kita hari ini, tidak menyisahkan ruang moral sedikitpun untuk melindungi anak-anak kecil itu.

Sialnya, semua yang menyalahkan Almira mengaku punya hati dan akal sehat

Berbagai argumen tuk melakukan pembenaran dari hujatan itu mengalir deras, sederas kedengkian hati. Semua ujung-ujungnya mengatakan tulisan anak AHY adalah surat politik.

Argumen itu mencerminkan kebodohan, kalau mau pakai argumen itu, semua surat anak-anak yang saya sebutkan di atas bisa dikatakan politis.

Selami surat dari Rudianti, anak SD kelas 3 yang minta kursi roda. Surat anak itu politis. Pesan yang ingin ia sampaikan negara belum mampu melindungi anak-anak disabilitas.

Juga surat Syahira Nasution, anak 10 tahun, yang meminta ayahnya dibebaskan. Itu juga politis, ia ingin menelanjangi sistem hukum yang masih berpihak pada mereka yang berduit: mereka yang korup hanya dipenjara singkat.

Semua surat anak bisa dkatakan politis, tergantung logika apa yang kamu pakai.

Lalu ada tudingan juga, menganggap karya Almira, hasil tulisan orang tuanya. Menganggap anak seusia dia tidak bisa merangkai kata demi kata. Padahal kalao mereka mau normal saja berpikir, banyak anak-anak seperti dia bisa menulis seperti itu. Dan bahkan bisa jadi lebih kritis seperti Malala Yousafzai di Afganistan sana.

Penerima hadiah nobel itu, mulai mengkritisi kebijakan mengerikan pemerintah Taliban, saat ia masih berusia 11-12 Tahun. Ia banyak menulis tentang kesulitan sekolah.

Mereka di luar sana–orang-oramg yang beradab–itu tidak memojokkan Malala, mereka memberikan ruang tuk mengkritisi pemguasa lalim di negaranya.

Di situlah fungsi akal sehat manusia dewasa.

Akan tetapi, kita di sini akal sehat dan nurani tidak tergerak sedikitpun; tidak memposisikan ia masih anak-anak yang layak dilindungi hanya karena berbeda dengan kamu yang tidak menyukai lockdwon.

Ia berbeda kebijakan dengan Jokowi, dan kamu beramai-ramai mencemooh anak itu. Sungguh terlalu..!

“Salah AHY dan Anisa yang memposting kegiatan anaknya di media sosial,” kata orang-orang dengan penuh seronok. Padahal sebelum mengatakan itu, mereka baru saja memposting kegiatan anaknya di medsos.

Setahu saya, sekarang ini, semua orang tua pernah memposting aktivitas anaknya di medsos. Dan itu wajar sebagai bentuk kecintaan orang tua pada anaknya.

Apa hanya karena berbeda pendapat dengan kamu? Atau kamu membully-nya karena dia cucu SBY?

Waras sedikit, Bro dan Sis..!! Anda tidak menyukai SBY dan atau AHY itu hak kamu, dan saya tidak peduli. Tapi jangan kedengkian kamu beranak-pinak sampai tujuh turunan dan akhirnya mengorbankan anak orang lain.

Bagi saya menyembah kekuasaan itu boleh, mau menempatkan Jokowi sebagai orang suci nan bersih sekelas dewa, itu juga hak kamu.

Namun, apapun bentuk sesembahan kamu, yang terpenting menyisakan sedikit hati buat anak-anak kecil yang berkreasi. Itu adalah bentuk penghargaan pada kehidupan hari ini dan esok.

Sebab, jika kamu tidak memiliki rasa itu, maka kamu tidak ada bedanya dengan tentara Firaun yang rela membunuh anak-anak kecil karena membahayakan kekuasaan.

Saya pribadi memilih dan ikutan menggalang dukungan Jokowi sejak tahun 2014, tapi sedikitpun, sampai hari ini, tidak ada niat ingin menyerang para anti Jokowi melalu anak-anaknya. Kenapa? Bukan karena saya lebih bernurani dalam politik, tapi tidak ingin dikatakan tukang jagal raja Fir’aun. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here